Stasiun Demak

Stasiun ini berada belakang terminal Demak. Lokasinya memang agak jauh dari jalan raya, harus masuk melalui jalan kampung dulu hingga nanti akan terlihat bangunan stasiunnya. Kondisi stasiunnya terlihat terawat dari depan karena sekarang bangunan tersebut digunakan untuk café. Oleh karena di depan stasiun dibangun pagar yang serupa dengan candi, maka terlihat seperti pura dari kejauhan. Namun, di bagian belakang terkesan kurang terawat dan banyak ditumbuhi ilalang.

Ketika berada di belakang stasiun saya bertemu dengan seorang bapak yang bernama Bapak Tulabi, beliau merupakan seorang pensiunan dari PT KAI. Masih terlihat sisa-sisa lantai stasiun yang bentuknya seperti kebanyakan stasiun-stasiun di Indonesia. Seharusnya terdapat peron dan atapnya di belakang stasiun ini, tetapi dibongkar dan dipindahkan ke Stasiun Pemalang. “Dulu di belakang sini ada peronnya mas, tetapi terus dibongkar dan pindahkan ke Stasiun Pemalang, “ terang beliau.

Beliau juga menjelaskan bahwa sebelum digunakan sebagai café, dulunya pernah digunakan untuk kantor DLLAJ dan kemudian menjadi gudang garam, sehingga sebagian bangunan tampak agak rapuh karena terkena garam dan memang pengaruh usia bangunan

Ketika saya bertanya tentang alasan jalur ini ditutup, beliau menjelaskan bahwa kereta api di jalur ini sudah kalah dengan kendaraan beroda karet. Jumlah pendapatan yang masuk tidak bisa mengimbangi  biaya operasional karena banyak penumpang yang beralih menggunakan bis dan kendaraan pribadi sehingga terus merugi. Selain itu, karena dulu loko yang dipakai adalah loko diesel seri D, sehingga soal kecepatan tidak dapat diandalkan. Seringnya kereta di jalur ini menabrak kendaraan lain juga menjadi penyebab lain, karena jalur rel yang berada di pinggir jalan raya.

Dulu kereta yang lewat di sini adalah jurusan Semarang – Lasem dan kereta jarak pendek jurusan Demak – Purwodadi. Bicara mengenai status kepemilikan tanah di sini adalah milik PT KAI, luasnya hingga mencapai terminal Demak. Banyak bangunan sudah berdiri di sekitar bekas stasiun ini, bahkan ada yang baru dibangun di samping menara air, di sebelah barat stasiun tepatnya. Kebetulan Pak Tulabi memiliki rumah di areal tanah stasiun ini dengan status sewa, jadi harus membayar biaya sewa ke PT KAI, yang dibayarkan melalui Pemda setempat.

demak1

demak9

demak2

demak3

demak5

demak4

demak6

demak8

demak7

Bekas Stasiun Demak


9 thoughts on “Stasiun Demak

  1. Mas Tony saya punya beberapa informasi mengenai jalur kereta api di Demak. Kab. Demak mempunyai beberapa stasiun tapi saya hanya tau beberapa saja, diantaranya stasiun sayung letak di kec. sayung dekat pasar sayung, halte buyaran letaknya di kec. karangtengah sekarang sudah beralih fungsi menjadi agen penjualan tiket bis dan toko hp, stasiun buyaran masih satu kecamatan dengan halte buyaran kondisinya masih relatif utuh, dan stasiun demak yang Mas Tony ceritakan, di Demak masih ada bekas jembatan kereta api. Letaknya di Jl. Sunan Kalijaga, jembatan itu melintang di atas Kali Kraca’an. Dulu ada 2 jembatan kerata api yang satunya sudah di bongkar PT. KAI.

    1. Dulu hanya fokus stasiun demak saja, karena terbatasnya waktu, sebab harus melanjutkan blusukan ke kudus, mayong, welahan, hingga pecangaan.
      Terima kasih informasinya, sangat berguna!

      1. mas ini foto stasiun demak waktu sudah dinonaktifkan tahun 80-an-sekerang http://wikimapia.org/#lang=en&lat=-6.900553&lon=110.636420&z=19&m=b&permpoly=9425213&show=/9425213/id/
        kalau yang ini gambar lokomotif D301, stasiun Buyaran dan Jembatan KA Kalijajar/Kali krac’an
        http://nugroho-pekamatra.blogspot.com/2008/08/melacak-bekas-jalur-ka-semarang-rembang.html
        salah satu orang yang pernah blusukan jalur KA semarang-demak-kudus-pati-rembang
        http://estradawitrias.blogspot.com/2012/04/stasiun-kereta-api-eks-samarang-joana.html

      1. Bangunan stasiun di Jawa kebanyakan memang memiliki kembaran, bahkan ada yang sampai kembar tiga, misalnya Stasiun Purwosari, Kedungjati, dan Ambarawa.

  2. Di Amerika juga ada jalur kereta mati, tapi bukan karena kalah sama kendaraan beroda karet, itu karena faktor Ekonomi. Pemerintah AS terlalu banyak menggunakan sebagian besar uang negaranya untuk membuat senjata dan membangun jalur KA baru yang bertujuan untuk menggantikan jalur lama sehingga Ekonomi pun menyusut akhirnya jalur KA lama ditutup untuk mengembalikan Ekonomi nya, tapi rel dan stasiunnya masih utuh sampai ada yang menyulap jalur KA menjadi taman kota yang panjang seperti High Line New York untuk Ekonomi nya. Sementara di Indonesia macam macam, ada karena Gempa Bumi tapi gak diperbaiki, Kalah sama Kendaraan beroda karet, masalah letak Geografis, rel udah tua dan gak pernah diganti, dan Ekonomi. Tetapi ironis nya malah dibangun bangunan baru yang bersifat permanen (semen) sehingga bekas tak terlihat. Padahal bekas jalur tersebut masih bisa dipergunakan kembali untuk mengaktifkan kembali jalur tsb… kalo kayak gini susah, harus ngeluarin surat Peringatan penggusuran. Mudah mudahan semua jalur KA yang mati dapat diaktifkan kembali, apalagi kalo jalur KA tsb adalah jalur utama seperti Demak dan Purwodadi. Lebih enak jika pake jalur Layang kayak Jepang, kereta cepat ala Eropa, lebar rel 1435 mm, fasilitas yang ada di stasiun canggih semua dengan bangunan yang lebih modern dan bersih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s